Tag Archives: daerah

Perkembangan wilayah Sukarno Hatta Malang dengan dua gedung tinggi baru

Pembangunan Apartemen Sukarno Hatta Malang

Pembangunan Apartemen Sukarno Hatta Malang

Pembangunan Apartemen Sukarno Hatta Malang

Pembangunan Apartemen Sukarno Hatta Malang

Dua bangunan besar yang akan menjadi landmark untuk Jalan Sukarno Hatta Malang, sedang dibangun, yaitu Apartemen Sukarno Hatta yang berada dekat jembatan Sukarno Hatta Malang, depan jalan masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Meskipun ada sedikit kasak kusuk sehubungan dengan letak apartemen yang berada dekat sekali dengan salah satu titik kemacetan di Malang ini. Meskipun demikian keberadaannya menjadi salah satu tolak ukur kemajuan kota Malang.

Bangunan besar lain yang sedang dibangun dan sepertinya sedang tahap finishing, adalah bangunan Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) yang berada di depan Taman Krida Budaya jalan Sukarno Hatta Malang. Bangunan besar ini menuai kontroversi dengan persengketaan warga sekitar dimana seharusnya lahan ini diperuntukkan untuk fasilitas umum perumahan setempat dan bukan untuk rumah sakit. Sempat terjadi sedikit ‘insiden’ dengan gosip ditariknya IMB atau Ijin Mendirikan Bangunan peruntukan rumah sakit ini.  Saat ini di bagian depan bangunan tepatnya di pagar diberi tanda “masih berIMB”.

Ini menunjukkan perkembangan pesat Jalan Sukarno Hatta Malang, tapi sayangnya tidak dibarengi dengan penyediaan dan perbaikan infrastrukturnya, karena bila hujan sering banjir dan pedestrian way atau area pejalan kaki tidak diperhatikan dengan baik.

Berita Kepanjen: Jalibar Kepanjen Malang Sudah Bisa Dilalui, Target 2013 Selesai

MALANG- Jalur Lingkar Barat (Jalibar) Kota Kepanjen ditargetkan selesai secara menyeluruh pada tahun 2013 mendatang. Tahun 2011 ini, proyek tersebut diguyur anggaran Rp 13 miliar atau naik Rp 500 juta dari perencanaan awal Rp 12,5 miliar. Pekerjaan yang perlu dituntaskan tahun ini adalah membuat dua lajur jalan guna menembus jalur Malang-Blitar.
Saat ini pengerjaan jalibar masih mencapai 75 persen, meskipun telah menghubungkan Kota Kepanjen dan Kecamatan Ngajum. Jalibar yang berspesifikasi aspal hotmix itu, sudah bisa dilalui kendaraan baik dari arah Desa Mojosari Kepanjen menembus Desa Ngasem Kecamatan Ngajum.
Namun dua lajur jalan hanya terbentang dari Desa Mojosari hingga jembatan Metro, sedangkan dari arah Ngasem menuju Jembatan Metro masih satu jalur saja. Lebar total Jalibar itu mencapai 26 meter dibagi menjadi dua lajur yang masing-masing lajur memiliki lebar sekitar tujuh meter.
Kepala Dinas Bina Marga Pemkab Malang Muhammad Anwar mengatakan, pada tahun 2011 ini pengerjaan difokuskan menggarap sisa lajur dari jembatan Metro menuju Desa Ngasem. Bila berjalan sesuai rencana maka dengan anggaran Rp 13 miliar, pada tahun 2012 Jalibar sudah memiliki dua jalur mulai dari Desa Mojosari Kepanjen hingga Desa Ngasem Kecamatan Ngajum. “Kemungkinan baru bisa selesai secara total pada tahun 2013 mendatang, karena tahun 2012 kita masih memiliki pekerjaan membangun pelengkap jalan,” jelasnya.
Pelengkap jalan yang dimaksud Anwar adalah pembangunan fasilitas pendukung jalur tersebu, yakni trotoar yang panjangnya sama dengan panjang jalibar serta lampu penerangan jalan umum (PJU). Jalibar memiliki panjang total sekitar 4,85 km sehingga bila memakai hitungan dua lajur maka panjang jalan mencapai sekitar 10 km. “Saat ini sudah bisa dilalui, namun tentu saja rawan pada malam hari karena kondisinya sepi dan gelap,” imbuhnya.
Pantauan Malang Post, Jalibar sudah mulai dimanfaatkan pengguna jalan baik dari arah Mojosari maupun Ngasem. Agar pengguna jalan bersikap waspada, Polsek Ngajum memasang spanduk peringatan pada ujung Jalibar di Desa Ngasem. Hal itu dimaksudkan agar pengguna jalan mewaspadai aksi kriminalitas yang bisa terjadi di jalur itu.
Proyek Jalibar tersebut pertama dikerjakan pada tahun 2008 dengan plot anggara oleh Pemkab Malang sejumlah Rp 13 miliar. Dana tahun 2008 itu digunakan untuk membangun empat jembatan yang membelah Sungai Metro. Pada tahun kedua, proyek multiyears Pemkab Malang itu mendapat kucuran Rp 16 miliar yang dipakai untuk pengaspalan dan bangunan atas jembatan.
Sedangkan tahap ketiga pada tahun 2010 jalibar digerojok Rp 20 miliar untuk finishing mulai pengaspalan lajur jalan. Pada tahap keempat tahun 2011, proyek itu mendapat guyuran dana Rp 13 miliar. Saat ini lahan yang belum tergarap mencapai 800 meter sebagai akses tembus menuju pintu masuk Jalibar Kepanjen di utara Rumah Makan Ontario atau menembus jalur Malang-Kepanjen-Blitar.

from:malangpost

Berita Daerah Madyopuro – Pasar Madyopuro Diusulkan Jadi Terminal Agrobis

MALANG – Perkembangan Kota Malang yang semakin pesat terutama kawasan timur membuat sejumlah anggota DPRD Kota Malang mengusulkan Pasar Madyopuro menjadi terminal atau pasar agrobis. Perkembangan itu melihat semakin dekatnya realisasi tol Pandaan-Malang serta pembangunan Pasar Blimbing.
‘’Pasar Madyopuro satu-satunya pasar yang paling strategis dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Malang. Kami ingin pasar tersebut menjadi pasar induk II setelah Gadang,’’ ungkap Lookh Makhfudz, anggota Komisi B DPRD Kota Malang.
Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Malang itu menjelaskan, pasar tersebut bisa menjadi sentra sayur dan buah-buahan, layaknya Pasar Mantung, Pujon Kabupaten Malang. Hal itu bisa diwujudkan dengan merelokasi Terminal Madyopuro, serta memanfaatkan lapangan ikut menjadi bagian pasar.
Apalagi Terminal Madyopuro, dinilainya tidak representatif lagi, karena dari terminal ini, untuk menuju sekolah-sekolah di kawasan Cemorokandang, masih cukup jauh. Padahal ada beberapa lembaga pendidikan, seperti MTSN Malang II, SMK IX dan X. Siswa tetap membutuhkan angkutan lagi ketika turun dari angkot di Terminal Madyopuro.
Terminal ini, lanjutnya, jika dipindah ke daerah Cemorokandang, akan sangat tepat. Karena para pelajar dari lembaga pendidikan ini tidak lagi membutuhkan kendaraan tambahan untuk sampai ke sekolahnya. Di Cemorokandang masih banyak lahan yang memadai untuk terminal.
Ketika tol Malang – Pandaan terwujud, terminal ini akan semakin besar tumbuh. Sedangkan Pasar Madyopuro juga berpotensi menjadi pasar induk kedua setelah Pasar Gadang.
‘’Selama ini, operasional pasar berlangsung mulai pagi hingga malam hari. Untuk mengubah menjadi Pasar Agrobis sangat mudah, karena lokasinya yang luas. Jika pasar dijadikan satu dengan terminal dan lapangan, lahan semuanya menjadi dua hektar,’’ katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Malang, Priyatmoko Oetomo mengatakan, pemikiran tersebut sebenarnya sangat baik, namun belum bisa dilakukan tahun ini, tetapi bisa dilakukan tahun-tahun depan. Masalahnya, APBD sudah disahkan dan tidak mungkin ada pembiayaan lagi.
‘’Kita juga harus melihat dulu rencana tata ruang wilayah (RTRW)-nya. Kalau melihat RTRW, kawasan itu bukan menjadi pasar induk seperti usulan,’’ katanya